SolusiCantik.com – Kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan sahur on the road. Setiap tahun, saat bulan Ramadhan tiba, tradisi ini kembali ramai. Tradisi dibulan Ramadhan yang tak pernah kelewat ini memang spesial. Ribuan orang berkumpul di pinggir jalan, membagikan makanan sahur gratis. Suasana hangat, ramah, dan penuh kebersamaan. Aku akan ajak kamu mengenal lebih dalam. Dari sejarah, makna, hingga cara ikut serta. Siap nostalgia dan dapat inspirasi?
Apa Sebenarnya Sahur on The Road Itu?
Pertama-tama, mari kita pahami dulu. Sahur on road adalah kegiatan membagikan makanan sahur secara gratis di jalan raya. Biasanya dilakukan tengah malam hingga menjelang imsak. Relawan datang dengan motor, mobil bak terbuka, atau bahkan sepeda. Mereka membagikan nasi kotak, bubur ayam, roti, kurma, air mineral, hingga kopi hangat.
Selain itu, kegiatan ini tidak hanya soal makan. Ini jadi ajang silaturahmi. Orang asing yang baru pertama kali bertemu bisa langsung akrab. Anak-anak kecil ikut antusias bantu bagikan. Lansia tersenyum lebar saat menerima bungkusan makanan.
Menurutku, inilah salah satu kekuatan Ramadhan. Orang rela keluar rumah jam 2 pagi hanya untuk berbagi.
Sejarah dan Asal-usul Sahur on The Road
Kemudian, dari mana tradisi ini bermula? Banyak yang bilang dimulai di Jakarta sekitar tahun 2010-an. Awalnya hanya segelintir komunitas motor trail dan komunitas sosial.
Lambat laun, kegiatan ini menyebar ke Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, hingga kota-kota kecil. Komunitas seperti Sahur On The Road Jakarta, Sahur On Road Bandung, dan Sahur On The Road Surabaya tumbuh besar. Mereka punya grup WhatsApp, Instagram, hingga akun donasi resmi.
Pakar budaya populer bilang, “Sahur on road adalah bentuk modern dari tradisi sedekah sahur di kampung-kampung.” Kata seorang antropolog dari UI.
Aku setuju. Dulu orang tua kita bangun sahur lalu bagi-bagi ke tetangga. Sekarang bentuknya lebih kekinian, tapi esensinya sama.
Mengapa Tradisi Ini Tak Pernah Kelewat di Bulan Ramadhan?
Selanjutnya, kenapa orang tetap semangat setiap tahun? Jawabannya sederhana. Karena manfaatnya nyata.
Banyak pekerja malam, driver ojek online, petugas keamanan, buruh bangunan, bahkan anak kost yang tidak sempat masak, terbantu sekali. Mereka bisa sahur tanpa repot cari warung yang masih buka.

Di sisi lain, bagi yang membagikan, ini jadi ladang pahala. Mereka merasakan kebahagiaan tersendiri saat melihat orang tersenyum menerima makanan.
Menurut psikolog sosial, kegiatan seperti ini meningkatkan rasa empati dan kebersamaan sosial. Itu sebabnya tradisi dibulan Ramadhan yang tak pernah kelewat ini terus hidup.
Baca Juga :
Rute dan Zona Favorit Sahur on The Road di Jakarta
Sekarang, kalau kamu di Jakarta, mana saja spot favoritnya? Beberapa rute legendaris:
- Sudirman – Thamrin – Senayan (koridor utama bisnis)
- Pantai Indah Kapuk – Pluit – Kelapa Gading
- Bekasi – Cakung – Pondok Gede
- Depok – Margonda – Cinere
- Bogor – Cibinong – Sentul
Biasanya rombongan mulai berkumpul jam 01.30–02.00 dini hari. Mereka keliling sampai menjelang imsak.
Menurutku, rute di kawasan industri dan perumahan padat paling ramai. Karena banyak pekerja shift malam.
Kota-kota Lain yang Ikut Meramaikan Sahur on The Road
Tidak hanya Jakarta. Bandung punya rute Braga – Dago – Lembang. Surabaya ramai di Jalan Raya Darmo – Tunjungan – Gubeng. Medan punya spot di Jalan Gatot Subroto dan sekitar Sunggal.
Makassar, Palembang, Semarang, Yogyakarta, bahkan Manado sudah punya komunitas sendiri. Setiap kota punya ciri khas menu. Misalnya Bandung suka bagi bubur kacang hijau, Surabaya lebih banyak nasi rames.
Oleh karena itu, kalau kamu travelling di bulan Ramadhan, coba ikut di kota tujuan.
Menu yang Sering Dibagikan dan Tips Menyusun Paket Sahur
Apa saja isi paket yang biasa? Nasi + lauk sederhana (rendang, ayam goreng, telur balado), sayur sop atau lodeh, kurma, air mineral, teh hangat atau kopi sachet.
Beberapa komunitas tambah roti isi, pisang goreng, atau kolak. Ada juga yang khusus vegetarian atau menu anak-anak.
Tips dari pengalaman relawan:
- Gunakan kotak makanan yang rapat agar tidak tumpah di jalan.
- Siapkan tisu dan sendok plastik.
- Jangan lupa masker dan hand sanitizer (masih penting).
- Label kotak dengan “Sahur Gratis” agar mudah dikenali.
Aku sarankan, kalau ikut tahun ini, mulai dari menu simpel tapi bergizi.
Cara Aman dan Nyaman Ikut Sahur on Road sebagai Relawan
Kamu mau ikut membagikan? Bagus sekali. Tapi perhatikan keselamatan.
Pertama, pakai rompi reflektif dan lampu motor yang terang. Kedua, patuhi lalu lintas. Jangan zig-zag atau ngebut. Ketiga, koordinasi dengan grup WhatsApp komunitas agar tidak bentrok rute.
Selain itu, siapkan jaket tebal karena pagi buta dingin. Bawa powerbank dan charger cadangan.
Menurutku, ikut sebagai relawan lebih berkesan daripada hanya menerima.
Tantangan dan Kritik yang Sering Muncul
Tidak semua orang setuju. Ada yang bilang ini mengganggu lalu lintas. Ada juga yang khawatir sampah plastik bertambah.
Namun demikian, banyak komunitas sudah antisipasi. Mereka sediakan tempat sampah sementara dan ajak peserta pungut sampah setelah selesai.
Pakar lingkungan bilang, “Kalau dikemas dengan baik, dampak negatifnya minimal dibanding manfaat sosialnya.”
Aku rasa kritik itu wajar. Yang penting komunitas terus evaluasi dan perbaiki.
Makna Lebih Dalam di Balik Tradisi Ini
Lebih dari sekadar makan gratis, sahur on the road mengajarkan banyak hal. Kepekaan sosial, kepedulian terhadap sesama, dan semangat berbagi tanpa pamrih.
Di era media sosial, kegiatan ini juga jadi bukti bahwa kebaikan masih ada. Banyak yang upload video, foto, dan cerita. Akhirnya menginspirasi orang lain ikut serta.
Menurutku, inilah salah satu alasan Ramadhan selalu dinanti. Bukan hanya puasa, tapi juga kebersamaan.
Cara Kamu Bisa Ikut atau Mendukung Tahun Ini
Mau ikut tahun depan? Mulai dari sekarang.
- Cari komunitas di Instagram atau TikTok dengan kata kunci “Sahur On Road [nama kota]”.
- Siapkan donasi (uang, beras, lauk, kotak makanan).
- Ajak teman atau keluarga.
- Kalau tidak bisa keluar malam, bantu dari rumah: masak, packing, atau doakan.
Aku yakin, satu bungkus nasi yang kamu bagikan bisa jadi penutup hari yang indah.
Kesimpulan: Jangan Lewatkan Tradisi Ini di Ramadhan
Akhirnya, sahur on the road bukan sekadar tren. Ini adalah tradisi dibulan Ramadhan yang tak pernah kelewat. Setiap tahun, ia mengingatkan kita tentang arti berbagi. Tentang kepedulian. Tentang kehangatan manusia.
Kalau kamu belum pernah ikut, tahun depan cobalah. Entah jadi penerima, relawan, atau sekadar menyaksikan dari balkon. Pasti ada cerita yang akan kamu ingat seumur hidup.
Bagikan pengalaman sahur on road kamu di komentar ya. Apa menu favoritmu waktu sahur di jalan?












